Jam 08.04 pagi Ketua Forum Panti Sosial Asuhan Anak se Sulawesi Tengah Bapak Ardan Lelemappuji berhasil berkomunikasi via jaringan Telkomsel dengan Forum Nasional Panti Sosial Asuhan Anak Jakarta. Farid Ari Fandi Sekretaris Fornas Panti menjawab langsung kontak yang berlangsung 5 menit.
Dalam keterangannya Ardan menyampaikan bangunan fasilitas olahraga Universitas Islam Muhammadiyah yang berada di Fakultas Agama Islam ambruk. Namun karena Fakultas Agama Islam, Universitas Muhamamdiyah Palu berada di ketinggian, menjadi pusat pengungsian dari 2 km arah bibir pantai. Ia juga menyampaikan Panti Aisyiyah yang berada di sebelah kampus Unismu dalam kondisi ambruk. Ada 70 anak yang sekarang ikut mengungsi di FAI Unismu. Kemungkinan 34 Panti di Kota Palu rawan ambruk.

Irwandi S Nurhamidin Kepala Panti Ar Rahman Jalan Durian 130 Kota Palu berhasil berkomunikasi dengan Sekjen Forum Nasional Panti Sosial Asuhan Anak. Ia menyampaikan karena tanah terus bergerak, belum stabil. Anak anak sudah berada di dataran tinggi, tepatnya di Sungai Manonda kelurahan Duyu Palu, bersama warga,. Kondisi asrama anak anak rusak. Kondisi jalan di tempat kita aspal aspalnya tidak bisa dilewati mobil, karena patah patah dan terangkat. Kondisi askes memang sulit dan jaringan komunikasi sulit masuk.

Irwan melanjutkan, Malam kita mengungsi dan evakuasi, terakhir kita temukan 2 orang anak dan ibunya dirawat. Semua masyarakat mengungsi, rumah kami tenggelam. Gempa ini tanahnya berjalan, jadi kebawah. Air laut naik di daerah pantai. Untuk di daerah pantai belum di evakuasi.
Beberapa panti mengabarkan rusak berat, terutama yang dilalui sesar patah gempa. Termasuk panti saya terangkat semua, susah mengambil apa apa. Untuk ambil minum tidak bisa, sekarang mengungsi di Sungai Manonda Keluarahan Duyu, Palu. Semua anak anak diungsikan ke atas.
Ilma Sovri Yanti Ketua Advokasi Fornas PSAA sore ketika kejadian Gempa 7 SR sempat telepon, tak terelakkan sambungan itu mendengarkan situasi gempa, anak anak lari ketakutan. Posisi ketika azan maghrib. Sekitar 15 detik sambungan ada dan kemudian terputus. Ada 34 Panti dengan sekitar 1604 anak. 3 hari yang lalu, saya baru dari Palu. Dan menyusuri Palu sampai Donggala. Saya sangat khawatir sepanjang jalan bibir pantai banyak sekali pertambangan pasir dan batu. Masyarakat tidak punya pilihan yang berada di bawah bukit, namun untuk baik ke bukit sangat curam dan banyak bekas leadakan pertambangan, tentunya sangat rawan longsor, apalagi tanah terus bergerak pasca gempa karena belum stabil. Kita harus mengantisipasi dan mengingatkan masyarakat sekitar pertambangan agar menjauhi bukit yang rawan longsor akibat ledakan untuk pertambahan.

Farid Ari Fandi Pokja Bantuan Panti se Indonesia menyampaikan hasil rekaman komunikasi dengan 2 Kepala Panti Palu sudah dilaporkan ke grup WA Gempa Sulteng yang dikoordinasikan TNI, kemudian kepada Sekjen Kementerian Sosial Bapak Hartono Laras, Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kementerian Sosial Bapak Nahar dan Komisi VIII DPR RI. Yang telah direspon langsung.

Yanto Mulya Pibiwanto Ketua Forum Nasional Panti Sosial Asuhan Anak pasca mendapat laporan dari Ketua Advokasi Fornas Ilma Sovri Yanti langsung melaksanakan serangkaian koordinasi. Beliau sangat mengkhawatirkan kondisi anak anak di Sulawesi Tengah terutama Kota Palu. Koordinasi respon tanggap darurat segera dilakukan. Dengan berbagai upaya agar dapat berkomunikasi dengan Forum Panti Palu. Komunikasi sudah terbuka dengan Ardan Lelemappuji Ketua Panti Muhammadiyah daerah Nuju dan Ustadz Irwandi Ketua Panti Ar Rahman di jalan Durian 130 Kota Palu.

Mariya Mubarika Ketua Bidang Kesehatan, Rehabilitasi dan Bencana Fornas Panti Sosial Asuhan Anak sedang menyiapkan tim untuk membantu panti panti yang terdampak. Sudah di ketahui 2 titik pengungsian anak anak panti bersama masyarakat. Pertama di Universitas Islam Muhammadiyah – Unismu Palu yang berlokasi di Fakultas Agama Islam dan Kedua pengungsian di Sungai Manonda Kecamatan Duyu Palu di bukit. Kita berdoa semoga upaya membuka akses oleh TNI, Basarnas, Polisi, BNPB dapat segera berhasil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *