Persiapan koordinasi bersama Mas Fedi Direktorat Anak Kemensos dan Mas Ali Aulia UNICEF. Untuk persiapan pertemuan panti se sulteng nanti siang

Selepas dicabut status tanggap darurat Jumat 26 Okt 2018. Masyarakat diajak untuk turun dari dataran tinggi kembali ke rumah. Tentunya hal tersebut butuh persiapan. Karena kondisi masyarakat yang masih mewaspadai bila terjadi gempa kembali. Karena belum berani masuk ke dalam rumah.

Disisi yang lain tinggal di pengungsian atau perbukitan terkendala dengan sanitasi, terbatasnya fasilitas MCK, bila hujan lembab dan kebasahan.

Dan bila berlangsung lama hidup dipengungsian, tentunya kekuatan tubuh menahan kondisi, dapat menyebabkan sakit.

Untuk itu, mau tidak mau, tidak ada kata lain pentingnya kembali mengfungsikan rumah, reruntuhan yang tersisa, merawat kembali barang barang yang masih bisa digunakan.

Begitu juga tidak ada pilihan lain, selain kembali menyelamatkan yang masih tersisa dan merencanakan kembali kehidupan. Apalagi fasilitas air dan listrik sudah pulih.

Namun tidak mudah untuk langsung tidur di rumah, karena kewaspadaan dan antisipasi bila terjadi gempa. Untuk itu dibutuhkan terpal, yang dimana, bila terjadi sewaktu waktu gempa, bisa mengungsi di halaman rumah, di dekat rumah.

Untuk itu pada hari Jumat, mengadakan pertemuan warga, dengan agenda acara pentingnya kembali dirumah pasca bencana. Terkumpul 120 warga yang rata rata perempuan dan lansia. Acara berlangsung di Panti Ar Rahman Jalan Durian 103 Kelurahan Kamonji, Sirenindi, Kota Palu.

Ahmad Suhari yang menyalurkan bantuan program Yasalira menyampaikan bahwa Gempa tidak mematikan, yang mematikan adalah ketidaktahuan kita, ketakutan kita. Buktinya kita semua masih bertemu. Kita juga kehilangan saudara saudara kita, bahkan tidak bisa di temukan. Untuk itu mari kita tetap berbuat untuk sesama, jadikan amal ibadah kita menjadi doa untuk saudara saudara kita yang telah tiada. Kita kirimkan doa dan menjalani kembali semangat hidup untuk Palu Bangkit, Palu Kuat.

Dari pertemuan tersebut terdata 45 warga membutuhkan tenda untuk kembali ke rumah.

Kami meminta 40 KK yang meminta untuk menyiapkan rangkanya dari sisa sisa bangunan.

Hari Jumat sore kami datang ke pertokoan di jalan WR Supratman untuk membeli terpal. Terbeli 30 terpal ukuran 4×5 dan 4×6.

Tadi pagi sudah kami salurkan dan mendirikan huntara (hunian sementara) dengan bahan kerangka kayu atau bambu dan terpal sebagai atapnya.

Masyarakat bercerita kondisi mereka selepas mengungsi di pegunungan dan perbukitan. Dan sangat berterima kasih dengan adanya terpal, anak anak, orang tua, lansia merasa nyaman karena bisa tidur dibawah tenda. Tidur didalam rumah masih diwaspadai, karena kondisi rumah yang retak retak. Dengan tenda mereka merasa bisa kembali merencanakan hidup.

Di desa Donggala Kodi Kota Palu kami membangun huntara, dan keluarga tersebut menyampaikan seorang pengungsi yang stroke, ditinggalkan istri dan anaknya. Dan ditampung dirumahnya.

Pemilik rumah menyampaikan ketika gempa ia sering tertinggal. Sehingga dengan adanya tenda beliau tersenyum, bisa kalau malam dipapah menuju tenda. Kita berinisiatif akan membelikan baju, karena sampai sekarang hanya baju melekat dibadan.

Ketika kami sedang mendirikan huntara datang seorang Kakek parkinson mendatangi kami di pinggir jalan, ketika sedang mendirikan tenda. Ia meminta rumahnya agar mendapatkan tenda. Kami meminta ia membuat rangkanya. Dan betul saja ia menunjukkan rangkanya sudah selesai, dan langsung kami serahkan.

Selepas itu perjalanan kami melanjutkan ke jalan Sungai Manonda dekat Balaroa (daerah terjadinya likuifaksi). Disana kami menyampaikan kambing kepada 2 keluarga. Untuk penguatan pemberdayaan ekonomi dan pengasuhan keluarga.

Penerimanya Keluarga Muhammad Nasir dan keluarga Ibu Murnia. Mereka akan menggunakan kambing ini sebaik baiknya, terutama untuk masa depan anak anak mereka dan melanjutkan sekolah.

Untuk diketahui Pak Irwandi yang menyerahkan kambing adalah Kepala Panti Ar Rahman. Ia mengembangkan pengasuhan anak dengan pengembangan ekonomi dan penguatan pengasuhan keluarga melalui ternak. Panti menyiapkan sharing knowledgenya mulai merawat ternak, fermentasi makanan, mengajak ternak berkeliling. Rohmat 10 tahun salah satu anak dari keluarga Muhammad Nasir senang menarik tali 2 kambing ke kandang.

Selanjutnya tim akan melanjutkan penyerahan tenda dan kambing.

Disisi lain tim sedang menyiapkan 3 daerah terkena Likuifaksi yaitu Balaroa, Petobo, Jono Oge menjadi tempat berdoa.

Karena ada fenomena tempat likuifaksi ini setiap sore ramai dikunjungi, karena banyak orang tertimbun dibawahnya dan melihat fenomena rumah tenggelam dalam tanah.

Untuk itu penting mengajak masyarakat dilokasi tersebut diajak berdoa. Untuk itu kami mendirikan 3 tenda sebagai tempat berdoa dan beribadah bagi para pengunjung

Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *